Ini tentang Aku ya? Tidak banyak yang bisa didapat dari seorang “Aku“. Aku hanya seorang anak dari seorang ayah dan seorang orang ibu yang berbeda sifat, latar belakang dan kebiasaan. Entah hanya suatu kebetulan belaka atau memang sudah garis Tuhan kedua orang tuaku berasal dari kalangan akdemis. Satu orang keturunan dari priyayi kaili (Palu), dan satu orang manado yang sangat pandai memasak. Kesukuan mereka tersebut bukan karena aku seorang yang rasis, hanya saja itu akan lebih menjelaskan sebuah pribadi yang tumbuh pada diriku.
Aku yang lahir pada bulan Juni tanggal 03 tahun 1979, dimana cukup mudah untuk menarik kesimpulan dari sana tentang sifat dasarku sebagai seorang yang keras kepala dan egois. Ayah yang membiarkan aku bergaul dengan siapa saja dan dari kalangan apa saja sejak kecil membuatku menjadi seorang anak yang bengal, cukup bengal sehingga ayah melepasku sejak aku SLTP, melepasku atas nama kebebasan, kebebasan yang sebebas-bebasnya, kebebasan penuh kepercayaan yang bertanggung jawab.
Aku begitu biasanya, sehingga masa remajaku tidak dipusingkan oleh hal-hal yang mungkin memang pada masa itu terpikir pun tidak. Aku tertarik pada bidang sastra, dan ingin menggeluti literari tulis menulis yang bagiku terlihat sangat menyenangkan sekali. Aku menyukai, mengerjakan sesuatu sepanjang tidak harus melulu bekerja dibelakang meja.
Lulus SMU tahun ‘97 tidak terus membuatku menjadi seorang sastrawan atau dokter. Beberapa minggu setelah hari terakhir aku memakai seragam putih abu-abuku, aku hijrah ke kota bandung. Petualangan ku tidak berhenti sampai di situ. Aku adalah salah satu dari 6 orang yang di rekomendasikan PT. Telkom Cab Palu untuk melanjutkan studi di STTelkom. Manusia selalu hanya bisa berkehendak. Nasib berkata lain, aku harus membuang mimpi ayahku yang bersikeras memasukan aku di kampus tersebut. Dari 6 delegasi tak satu pun di antara kami yang lulus untuk bermukim di kampus itu. Dengan terpaksa aku menanggalkan kebanggaan akademis versi ayahku. Entah berapa lama aku terus merenungi nasib di kota sejuk itu, dan aku harus meninggalkan kota itu karena suatu alasan, menaruh semua kenangan yang pernah kudapat dari sana dibelakangku.
Kehendakku, ternyata bukan kehendakNya. Kali ini aku tidak beruntung. Seingatku 9 juli`97 sesaat aku bangun dari lelapku, aku sudah berada di kota yogyakarta, kota yang banyak menawarkan pembelajaran kecerdasan emotional, spritual, kepemimpinan kehidupan dan kemanjaan. Kemanjaan-kemanjaan ala pikiran Yunani, yang menempatkan sukses di atas gagal, indah di atas jelek, sehat di atas sakit, hanyalah rangkain beban perjalanan rantauan yang harus segera di buang.
Aku di terima di salah satu fakultas TEKNIK di kota itu, dan lingkungan memaksaku harus bisa hidup mandiri di Yogya sebagai anak rantau. Sebuah misi gerilya study yang amat berat bagiku. Beberapa sahabat bahkan mengatakan tidak mungkin. Dan seberat apapun tugas ini, kehidupan tidak memberikan pilihan lain kucuali segera membuangnya. Seperti hukum alam lain, bila hasilnya mengagumkan, maka upaya pengorbanannya pun tidak kalah beratnya.
Semasa kuliah ini, jiwa dan idealisku mulai terbentuk. Beberapa organisasi di dalam maupun di luar kampus banyak membantuku untuk menjadi seorang Aku. Mahasiswa Pencinta Alam ISTA (MAPALISTA), adalah awal landasan karier organisasiku di dunia kampus, tahun 1998 aku bergabung bersama beberapa element mahasiswa dalam wadah Forum Kota (FORKOT), setelah itu tahun 1999 aku di percaya sebagi Ketua KOPMA ISTA, tahun 1999 idealistku memaksa aku untuk meninggalkan HMI dikarenakan sesuatu dan lain hal yang sampai sekarang tidak kumengerti. tahun 2000 BEM ISTA mempercayakan aku sebagai ketua bidang Advokasi dan Humas. Masih di tahun yang sama dalam Rapat Kerja Forum komunikasi mahasiswa Teknik Elektro (FKMTE) se-Indonesia di Universitas Hasanudin membawaku duduk sebagai fasilitator dalam kegiatan² FKMTE di seluruh indonesia. Adalah Forum Study Mahasiswa Palu Yogyakarta (FORSMAPY) yang aku deklarasikan bersama teman-teman senasib dan sedaerah tahun 2001 merupakan wujud nyata kepedulianku kepada tanah kelahiranku, dan alhamdulliah forum ini tidaklah sulit mencari O2 dalam membantu pernapasannya.
Oktober 2003, adalah bulan dan tahun ke emasanku di yogya. Aku baru saja menyelesaikan PR yang begitu sulit dan panjang, dan banyak memakan episode extra, yang sutradaranya tak lain adalah kedua orang tuaku. Menyandang titel Insinyur tidak membuatku bangga, entah kenapa gelar itu begitu menghimpit jiwaku, tadi nya aku berharap bahwa ini hanyalah sebuah kado besar untuk kedua orang tuaku, merekalah yang pantas untuk menyandangnya. Aku ingat seorang kawan dekat pernah berkata padaku “Ketika aku adalah apa yang aku miliki, dan ketika aku tidak memiliki apa-apa, lalu…Siapakah aku ?” (thank u Helmi). Ingin rasanya melepaskan status akademis yang begitu melekat pada diriku, karena aku adalah aku.
By the way, Aku salah satu orang yang merasa tidak akan pernah bisa meninggalkan kota Yogya (meskipun saat sekarang aku berada di luar kota yogya). Aku bersikeras hidup disana dari waktu orang tuaku masih sanggup membantu untuk urusan finansialku, walau dalam skala yang kecil sekali, sampai pada akhirnya itu sudah tidak dapat mereka lakukan lagi. Aku tahu hal itu akan terjadi. Dan itu makin mengajarkan sesuatu kepadaku, bahwasanya hidup itu tidak keluar begitu saja dari dalam tanah dan tidak terpetik dari sebatang pohon.
Yogya mengenalkanku pada dunia modem, dunia perjalanan serat optik, dunia yang tidak akan terjamah tanpa aliran tenaga komponen. Aku berjabat tangan dengan bidang yang aku tidak mengerti bahkan sempat membencinya, bidang yang lambat sekali baru bisa aku kuasai sedikit-sedikit karena aku bodoh dan tidak pintar. Dunia ini menyenangkan dan aku lekat padanya. Lambat laun Aku adalah mereka yang maya. Sekarang semuanya mulai berjalan lambat. Kutinggalkan kesalah-kaprahan yang membuatku menjadi seorang pemorak-poranda atas kuasaku yang maya.
Aku mulai belajar bagaimana membuat sebuah tulisan, mendisain, mengolah bentuk site. Semuanya kupelajari sendiri dari melihat dan mencoba karena aku selalu hanya mempunyai sedikit keberanian untuk bertanya apalagi karena aku orang yang tidak tahan diabaikan dan dianggap tidak ada bahkan dilecehkan, aku tidak suka bertanya pada kecenderungan sebab tersebut. Hanya saja aku tahu aku harus mencoba menekan egoku karena ternyata dunia diluar sana masih luas sekali dan aku memang tidak akan bisa sempurna mengerjakannya tanpa bertanya dan selalu bertanya untuk hal yang tidak dan belum aku mengerti.
Aku tahu umur tidak bisa ditebak tapi aku tahu jalanku masih panjang. Aku harus belajar untuk terus mencoba, menekuni, dan menyukai hal lain yang sama sekali berbeda pada apa yang aku sukai dan jalani bertahun-tahun ketika aku harus menempuh jalan hidup yang sama sekali tidak memanjakanku lahir dan bathin. Ya, aku masih manusia. Aku akan memberi selamat pada diriku sendiri dan pada berpuluh pembual lainnya. Aku mungkin anomali. Mungkin sempit. Mungkin absurd. Mungkin memang berbeda. Bisa jadi malah aneh. Tetapi aku tetap orang biasa yang bukan siapa-siapa. Hmmm…apa yang berikutnya pun masih akan tentang aku? Mungkin Tuhan mau sedikit membocorkannya ketelingamu jika kau mau bertanya.
"Pemilik Blog ini"
Adalah Orang yang baru berjabat tangan dengan dunia modem dan kemudian
terjerumus ke lembah blog. Hari ini saya bisa mengisi blog ini, besok
mungkin tidak, karena saya bukan budak internet. Tentang isi blog ini
tidaklah murni tulisan saya, ada banyak comotan dari sana sini, iya itu
sepengetahuan empunya juga tanpa permisi dulu.







Buka web PENA ya.
Website PBC Launching at http://www.nosarara.org
Halo… Halo… Salam kenal dari daku
Jalani hidup dengan warna,enyahkan semua rasa gunda.
Dari sahabat yang senasib sependeritaan STTTelkom Bandung.Alhamdulillah aku sempat menyelesaikan Tugas Akhir dengan predikat yang memuaskan.Tidak ada kata yang tidak bisa kalau ada niat dan kemauan “kata sahabatku Melani Reahta waktu mendaftar di kampus buah batu yang dinginnya minta ampun”.Mungkin Affan bertanya tanya..”siapa aku ini..?”
Sukses Fan,semenga Allah berserta kita & Iblis Iblis kita singkirkan.
Wassalam